Ibuku, oh ibuku..
Malam ini, mengapa kacau sekali? Malam ini mengapa menyedihkan sekali? Malam ini seharusnya aku berbahagia bersama keluargaku, bersama bapak dan ibuku, bersama adik-adikku, bersama suamiku.. Tetapi kenapa semuanya jadi begini? Tidak pernah terbayang olehku.. Tuhanku, apakah memang telah Engkau menakdirkan aku menjalani jalanku yang seperti saat ini?
Berawal dari perbincangan singkat dengan ibu yang kemudian menjalar ke pertengkaran aku dan suamiku. Kesalahpahaman dan kesalahan dalam bersikap, itulah sumbernya. Kesalahpahaman itu telah menimbulkan dampak yang sangat buruk. Kali ini, emosiku benar-benar telah mengalahkan logika, yang kemudian menimbulkan penyesalan yang tak berguna.
As usual, saat kosro, yang mengendalikanku hanya emosiku, yang selanjutnya dilampiaskan pada hal-hal yang pastinya sangat tidak bermanfaat bahkan bisa dibilang merugikan. Jika kemaren-kemaren aku melampiaskan kemarahan dan kegilaan dengan membeli barang yang tidak sewajarnya, melakukan aksi ngecat rambut dengan warna aneh, maka yang telah kulakukan malam ini lebih gila lagi. Ngebut di jalanan waktu lagi mbonceng ibuku. Bener-bener gila dan tidak pernah terbayang olehku. Ngebut dengan membawa orang yang kusayangi, tanpa pikir panjang, tanpa kira-kira sdikitpun. Ibuku berpegangan kuat pada tubuhku. Aku merasakan bahwa waktu itu ibuku benar-benar takut, takut kubonceng dengan cara naik motor yang penuh emosi. Aku bisa merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh ibuku. Ibuku memintaku untuk menurunkan beliau di pinggir jalan, untuk ikut bonceng bapakku saja. Tapi waktu itu aku tidak mau menghiraukan. Aku terus melaju dan melaju, membawa ibuku dalam ketakutan yang luar biasa, melalui jalanan dengan cara nyetir yang benar-benar kosro untuk ukuran membonceng wanita seumur ibuku. Ya tuhanku, kenapa aku segila itu? Kenapa aku tidak berpikir panjang, apa yang kemudian akan terjadi kalau aku kurang waspada sedikit saja? Mungkin aka akan membuat ibuku sakit karena kegilaanku itu. Tapi kenapa saat itu aku benar-benar tidak memikirkan akibat yang mungkin akan terjadi? Setan mana yang sebenarnya telah merasukiku?
Ibuku, aku menyayangimu, aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin menyakitimu, sedikitpun.. Aku selalu ingin menjagamu, aku ingin membahagiakanmu, aku ingin engkau tahu, bahwa sebenarnya aku menyayangimu, bahwa sebenarnya aku tidak akan bisa hidup jika harus tanpamu. Tanpamu, aku tidak akan ada apa-apanya, ibu.. Tanpamu, aku tidak akan ada dan hidup di dunia ini..
Akhirnya, di satu perempatan, ibuku turun dan berdiri di pinggir jalan, menunggu bapakku. Aku tidak bisa memaksa ibuku lagi untuk terus kubonceng. Lampu hijau menyala, akhirnya aku belok ke kiri lalu menepi, menunggu ibuku dan bapakku lewat. Aku tidak bisa membiarkan ibuku berada di situ sendiri. Ibuku adalah wanita, yang pastinya lemah dan tidak sekuat pria. Lalu apa yang akan terjadi jika aku meninggalkan ibuku di situ sendiri? Aku tidak ingin hal-hal buruk yang tidak kuinginkan terjadi pada ibuku. Aku menyayangi ibuku. Kali ini, otakku mulai bisa bekerja dan menalar.
Hujan mulai turun, rintik-rintik, tapi kemudian menjadi deras. Aku tidak tahan lagi, aku menoleh ke belakang. Ternyata kedua adikku sudah berada di belakangku. Juga sedang menunggu ibuku dan bapakku. Adikku yang paling kecil, akhirnya berhasil membujuk ibuku untuk berteduh, lalu aku mengantar adikku itu ke rumah. Sampai di rumah, aku langsung pergi lagi. Hujan tidak lagi kuhiraukan. Aku menghampiri tempat berteduh tadi, dan ternyata kudapati adikku yang besar yang masih menunggui ibuku yang sedang memesan makan malam untuk dibungkus dan dibawa pulang. Aku meminta ijin kepada ibuku untuk pergi keluar, ibuku memberikan ijin. Aku langsung melesat ke rumah suamiku. Aku ingin segera menyelesaikan permasalahan yang sangat menggangguku itu. Dari perbincangan, otot-ototan, engkel-engkelan dan isak tangis itu, akhirnya selesailah permasalahan. Terbukah pikiran. Jelaslah kesalahpahaman itu dan berdamailah kita berdua.
Akhirnya aku pulang ke rumah. Aku meminta maaf pada ibuku, atas aksi ngebutku tadi. Ibuku tidak berucap sepatah kata pun. Ibuku lalu menangis. Dari isak tangis ibuku, aku bisa membaca, aku bisa mengerti, bahwa saat itu, hati ibuku terasa sangat sakit. Sakit yang muncul atas tingkah lakuku. Mengapa aku selalu menyakiti hati ibuku? Mengapa aku sering menyakiti hati orang-orang yang begitu menyayangiku? Mengapa aku selalu menuruti emosiku? Mengapa aku begitu egois? Mengapa aku menjadi manusia yang tidak berguna seperti ini, ya Tuhanku?
Ibuku, aku tidak marah kepadamu atas kemarahanmu kepadaku. Karena aku tau bahwa engkau selalu menyayangiku. Telah banyak rasa sayangmu yang telah kau berikan kepadaku, tetapi apa yang telah kuberikan kepadamu? Hanya sakit hati dan rasa benci yang telah menyiksamu. Ibuku, aku tidak ingin membuatmu menderita seperti ini, aku ingin melihatmu bahagia, tetapi mengapa aku tidak pernah bisa mewujudkannya menjadi nyata? Kenapa semua itu hanya ada di anganku? Aku ingin semua itu menjadi nyata. Tetapi mengapa tidak pernah terwujud? Aku ingin engkau tahu, ibuku, bahwa aku menyayangimu, aku takut kehilanganmu. Ibuku aku sayang padamu..
Ya Tuhanku, maafkan aku atas sikapku pada ibuku. Kini baru aku sadari, bahwa marahnya ibuku kepadaku, adalah marahMu kepadaku. Maafkan aku, ampuni aku, ya Tuhanku..
Tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar, aku tidak ingin terus tersesat di jalan ini, jalan yang tidak pernah kulalui sebelumnya, yang telah membawaku terjatuh ke jurang yang kelam. Berikanlah setitik cahayaMu, yang mampu membantuku untuk memilih dan berjalan di jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi..




‘membeli barang yang tidak sewajarnya’
MIRAS???
Ya Tuhanku, maafkan aku atas sikapku pada ibuku. Kini baru aku sadari, bahwa marahnya ibuku kepadaku, adalah marahMu kepadaku. Maafkan aku, ampuni aku, ya Tuhanku..
Tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar, aku tidak ingin terus tersesat di jalan ini, jalan yang tidak pernah kulalui sebelumnya, yang telah membawaku terjatuh ke jurang yang kelam. Berikanlah setitik cahayaMu, yang mampu membantuku untuk memilih dan berjalan di jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi..
AMIN….
_000_000__
_00_00000
000_00_00
0000__0_
0___00__0_
0____0__0_
_0_____0
_00___00000_
_0______0_
0________0
0________0
0____0_0000_
00_00_0
000_0000
_0_0000000_
__0000___
__000000____
___0000___
____00___
Tetaplah menjadi bunga yang selalu mewangi…
Jangan sampai bunga itu layu..
Tetap jaga agar tetap selalu segar.
Do the best. For the best future.
GBU….
Comment by x — April 20, 2006 @ 12:55 am
Penting tha?
Percuma ngomong thok dari dulu, kalo emang realitanya ampe sekarang gak ada. It’s all just a BULLSHIT…
Sekarang sadar, besok lagi. What a shame to be a human.
Hmmm…
Lho, kok aku jadi terbawa emosi. Lho… Lho…
Wes kadhong hayo… Hehe… (~.^)b
Yo wes, turu ae ah. Ngantuk… (-.-) Zzz…
Comment by Ho — April 21, 2006 @ 4:19 am
Huahuahua…
Iya, emang biasanya gtu, sekarang sadar, tapi kemudian besok2nya lagi masih tetep diulang juga. Tapi setidaknya kan ada kesadaran, meskipun hanya singgah. Huehuehue..
Skalian menanggapi komen saudara x, maksud kalimat “membeli barang yang tidak sewajarnya” adalah barang2 yang sebenernya g penting banget untuk dibeli, misalnya: bli sepatu padahal sepatu yang sekarang lagi dipake juga masih bagus dan masih layak untuk dipake. Tapi bukan MIRAS.. Huehuehue…
Comment by dep — April 21, 2006 @ 4:56 am
(Tapi bukan MIRAS.. Huehuehue…)
Alhamdulillah
Comment by x — April 21, 2006 @ 1:23 pm
Ya, alhamdulillah, sampe saat ini, masih bisa mikir sampe 2 kali bahkan lebih untuk menyentuh atopun membeli yang satu itu. Itu adalah the last choice, kayaknya..
Comment by dep — April 25, 2006 @ 6:04 am