Entah dari mana asal kata Empret. Dari bahasa apa juga g jelas, bahasa Indonesia bukan, bahasa Jawa juga bukan, bahasa Inggris lagi, malah g nyambung. Kucari di ensiklopedia, g ktemu juga. Seingatku, aku mengenal kata itu dari pembantu di kosku yang terdahulu. Dia sering kali ngomong sesuatu dan diikuti dengan kata “empret” yang kemudian bisa kudeteksi klo dia lagi g satisfy dengan sesuatu atau dengan pernyataan orang lain, maka dia menambahkan embel-embel “empret”.
Lately, aku biasa memanggil dia dengan sebutan “empret”. Pertamanya, yah cuma sekedar olok-olokan, ngata-ngatain pake kata “empret”. Eh, tau-tau jadi kebabalasan manggil dia dengan sebuatan “empret”. Meskipun aku memanggilnya dengan sebutan itu, aku tetep sayang, makin sayang sama dia, tidak ada maksud lain selain itu.
Empretku orangnya suka marah. Sebenarnya g suka marah, tetapi aku yang sering membuat dia marah. Dia suka hilang kendali klo sudah terbawa emosinya itu, dia sering g berpikir panjang, dia suka meluapkan kemarahannya dengan ngomong keras sambil berteriak-teriak ke orang yang telah membuat dia marah. Tetapi di balik semua itu, dia adalah orang yang kadang mudah memaafkan kesalahan orang lain, dia adalah orang yang menyayangiku, dia adalah orang yang mau mempertahankan aku, dia adalah orang yang memberiku semangat, dia adalah orang yang membuatku sering menangis yang kemudian mengharuskanku untuk berpikir, dia adalah orang memaksaku untuk menjadi dewasa, dia adalah orang yang ku sayayangi.
Dari semua yang telah terjadi, aku bisa tau dan mengerti bahwa ternyata dia menyayangiku dan aku juga menyayanginya.
Empretku, tetaplah menjadi milikku untuk selamanya.
Empretku, jangan pernah sekalipun meninggalkanku.
Empretku, aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti kemarin hari itu.
Empretku, aku menyayangimu.













